Pedagang Kios Depan RSUD Wates Menolak Direlokasi

Pedagang yang berjualan di  kios depan RSUD Wates menolak untuk direlokasi.  Mereka menganggap tempat yang akan digunakan untuk relokasi tidak prospektif sebagai tempat usaha. Padahal kios yang ditempati pedagang saat ini merupakan satu-satunya sumber kehidupan mereka.

Atas penolakan tersebut puluhan pedagang yang tergabung dalam Paguyuban Pedagang ‘Langgeng’ melakukan audiensi dengan Komisi II DPRD Kulonprogo, Jumat (7/2) di gedung dewan. Audiensi dipimpin Ketua Komisi II Yusron Martofa SH. Hadir pada kesempatan itu Kepala Dinas Koperasi      ST MT dan Lurah Wates Sigit Purnomo SIP.

Menurut Ketua Paguyuban Pedagang ‘Langgeng’ Sugeng Prasetyo, beberapa waktu lalu pedagang mendapat penjelasan dari Kepala Dinas Koperasi dan UMKM serta Lurah Wates bahwa lokasi kios yang berseberangan dengan RSUD Wates dalam waktu dekat akan direlokasi. Dalam keterangan tersebut, tambah dia, lahan bekas kios akan digunakan sebagai Ruang Terbuka Hijau (RTH). Lokasi kios akan dipindah di sebelah barat RSUD, katanya.

Untuk proses relokasi tersebut, tambah Sugeng, dijelaskan bahwa Pemkab Kulonprogo tidak menyediakan dana. Sehingga penghuni kios diminta untuk membentuk koperasi agar bisa mendapat bantuan pinjaman. “Saat itu dijelaskan bahwa pinjaman menjadi tanggung jawab penghuni kios, dan harus digunakan untuk membangun kios. Kalau kurang harus ditanggung sendiri,” papar Sugeng.

Ditandaskan Sugeng,  alasan pedagang menolak relokasi karena berbagai pertimbangan. Antara lain keberadaan mereka bisa membantu warga dan pasien untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari selama di rumah sakit. “Kami menolak bukan berarti membangkang, namun sebagai wujud ketidaksetujuan kami dari rencana relokasi,” tegasnya.      

Menanggapi penolakan tersebut Harmintarti menyatakan, penertiban Pedagang kaki Lima (PKL) di depan RSUD Wates dilakukan karena dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) lokasi tersebut merupakan RTH. RSUD, kata dia, sudah membuat site plain, katanya.

Sedangkan Dinas Koperasi dan UMKM, tambahnya, menawarkan agar pedagang membentuk wadah organisasi dalam bentuk koperasi. Dengan harapan agar tingkat kesejahteraan pedaganglebih baik dan lebih mudah dilakukan penataan, imbuh Harmin.

Sementara Yusron minta agar pedagang bersikap tenang menanggapi isu relokasi. Karena pelaksanaan relokasi belum jelas dan masih merupakan rencana. “Kami minta para pedagang menjaga suasana kondusif. Silakan memikirkan berdagang dulu, jangan berpikir tentang relokasi. Apalagi saat ini menjelang pelaksanaan Pemilu, yang butuh suasana tenang dan kondusif,” imbuh Yusron.