Wisata Jogja Belum ‘Nyiprat’ Ke Kulonprogo

Kota Jogja sebagai daerah tujuan wisata ke-2 setelah Bali belum ‘nyiprat’ (berpengaruh secara signifikan) bagi kunjungan wisata di Kulonprogo.  Jumlah wisatawan yang datang ke Kulonprogo masih jauh di bawah Kota Jogja. Padahal jarak Jogja-Kulonprogo relatif dekat, hanya sekitar 25 km.

Demikian dikatakan anggota Komisi IV DPRD Drs H Kasdiono, Senin (23/9) saat menyambut kunjungan kerja  Komisi C dan D DPRD Kabupaten Karangasem, Provinsi Bali. Penyambutan dilakukan oleh Wakil Keua II DPRD Soleh Wibowo SAg serta segenap anggota Komisi IV dan Kepala Dinas Budparpora Eko Wisnuwardana SE.

Kunker DPRD Karangasem yang dipimpin Ketua I Gede Dana SPd MSi bertujuan untuk ‘ngangsu kawruh’ tentang penglolaan pariwisata serta regulasi yang berkaitan dengan sector kepariwisataan di Kulonprogo.

Menurut Kasdiono, hal tersebut sebenarnya disebabkan oleh kebelumsiapan kepariwisataan Kulonprogo sendiri. Antara lain, belum optimalnya kualitas pendukung obyek wisata seperti infrastruktur, akomodasi, transportasi dan kuliner. “Di sini sarana pendukungnya masih sangat terbatas sehingga belum bisa menjamin kenyamanan wisatawan,” tukas politisi PAN tersebut.

Oleh karenanya Kasdiono menyarankan agar Pemkab melakukan program-program terobosan yang mampu mempromosikan obyek wisata Kulonprogo agar bisa dikenal oleh masyarakat luas. Misalnya dengan meningkatkan sarana pendukung serta membangun jalur transportasi untuk menghubungkan beberapa obyek menjadi satu paket wisata. Selain itu juga perlu menampilkan obyek yang spesifik yang berbasis pada budaya atau kondisi alam yang khas , tuturnya.

“Yang tak kalah penting adalah membangun mindset masyarakat di sekitar lokasi obyek wisata agar memiliki kesadaran untuk mendukung pengelolaan wisata. Yakni dengan turut memberikan jaminan atas keamanan, kenyamanan dan kepuasan wisatawan. Karena pada hakekatnya yang dicari wisatawan adalah kepuasan,” tandas Kasdiono.

Sementara I Gede Dana menyatakan, Karangasem merupakan kabupaten di Provinsi Bali yang potensi wisatanya paling rendah. Tidak seperti di kabupaten/kota lain yang kontribusi utama PAD dari sektor, Karangasem justru dari pajak galian golongan C. PAD dari sector pariwisata masih sangat kecil.

“Oleh karenanya kami belajar dari Kulonprogo. Mungkin ada referensi yang bisa kami gunakan untuk meningkatkan pariwisata Karangasem,” ujar Dana.