BKSDA YOGYAKARTA AUDIENSI KE DPRD TERKAIT PENYUSUNAN BUKU "JATIMULYO, SURGA PERBUKITAN MENOREH"

Balai Konservasi Sumber Daya Alam Yogyakarta melakukan audiensi di DPRD Kabupaten Kulon Progo pada Rabu, 26 Agustus 2020. Audiensi yang diterima langsung oleh Ketua DPRD, Akhid Nuryati, SE ini berkaitan dengan penulisan buku “JATIMULYO, Surga Perbukitan Menoreh” dan “Burung Migran di Pantai Trisik, Kulon Progo” yang disusun oleh BKSDA Yogyakarta. Selain buku, audiensi juga membahas masa depan konservasi di Wilayah Kabupaten Kulon Progo.

Dalam penyampaian maksud dan tujuan audiensi, Kepala BKSDA Yogyakarta, Muhammad Wahyudi, SP, M.Sc memaparkan tentang buku "JATIMULYO, Surga Burung Perbukitan Menoreh" menggambarkan tentang masyarakat desa Jatimulyo, Kecamatan Girimulyo yang memiliki kebiasaan memanfaatkan dengan cara berburu burung untuk dijual ke pasaran dan pengepul. Lambat laun ketika beberapa jenis burung telah habis, masyarakat sadar dan mengubah pola pikir yang tadinya memburu diubah dengan mengadopsi burung. Kegelisahan masyarakat terjawab dengan munculnya peraturan desa No. 8 tahun 2014 tentang Pelestarian Lingkungan Hidup. Sampai tahun 2019, sebanyak 102 jenis burung telah diinventarisasi dan mampu menyumbangkan 20 jenis burung di D.I Yogyakarta.

Selain itu, buku " Burung Migran di Pantai Trisik, Kulon Progo" menggambarkan tentang kekayaan jenis burung migran di Pantai Trisik yang berjumlah 32 jenis. Jenis burung migran tersebut memiliki keunikan yaitu akan singgah selama bulan Oktober - Maret tiap tahunnya. Kesadaran masyarakat akan pentingnya konservasi keanekaragaman hayati cukup tinggi dan salah satu potensi penting untuk dilestarikan adalah keberadaan burung migran di Kawasan Pantai Trisik.

Kepala BKSDA mengutarakan bahwa Kulon Progo merupakan Kawasan Ekosistem Esensial (KEE) Karst Menoreh yang sedang berproses dan terdapat juga calon Area Bernilai Konservasi Tinggi (ABKT) salah satunya kawasan Pesisir Trisik karena tempat mendarat penyu dan juga transit burung migran. Lebih lanjut, BKSDA juga akan memasukkan kawasan sermo sebagai salah satu unsur rencana pembangunan pusat konservasi Jawa Selatan.

Ketua DPRD menyampaikan apresiasi dan dukungan terhadap kegiatan konservasi yang dilakukan oleh BKSDA Yogyakarta. “Konservasi adalah kata yang sangat dirindukan oleh Kulon Progo. Belum ada lembaga yang serius memberikan pandangan terkait konservasi” ucap Akhid. Menurutnya, kegiatan konservasi ini biasanya tidak sejalan dengan kegiatan ekonomi warga. “Adanya aturan yang menyatakan bahwa masyarakat di wilayah konservasi tidak bisa memanfaatkan sumber daya alam di wilayah konservasi itu yang membuat Pemda urung dalam upaya menarik PAD kawasan tersebut.” imbuh Ketua DPRD.

Dengan kehadiran BKSDA Yogyakarta ke DPRD, diharapkan mampu memberikan wawasan seputar konservasi sehingga nantinya DPRD bersama pemerintah kabupaten bisa memberikan kebijakan yang sejalan dengan kegiatan konservasi. Ketua DPRD juga membuka pintu selebar-lebarnya jika BKSDA Yogyakarta akan menyampaikan  tentang konservasi kepada DPRD baik itu melalui forum workshop atau sosialisasi di gedung DPRD. (YA2020)