Akhid minta penataan sabuk hijau selatan YIA libatkan masyarakat

Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, Akhid Nuryati mendesak pemerintah setempat berkoordinasi dengan Badan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung (BPDASHL) menyiapkan konsep penanaman sabuk hijau selatan Bandara Internasional Yogyakarta yang melibatkan masyarakat.

Akhid Nuryati menilai Bupati Kulon Progo Sutedjo kurang peka terhadap aspirasi masyarakat dan pemilik tambak udang di selatan Bandara Internasional Yogyakarta yang lahannya akan digunakan sebagai sabuk hijau.

Pemkab yang memiliki kewenangan untuk melakukan koordinasi dengan BPDASHL, sehingga dewan mendesak sebelum dilakukan penanaman tanaman untuk sabuk hijau, konsep dan mekanismenya harus ada, dan berpihak, serta melibatkan masyarakat.

"Untuk itu, kami mendesak bupati berkoordinasi dengan BPDASHL menyiapkan konsep dan mekanismenya secara jelas," kata Akhid.

Ia mengatakan berdasarkan hasil audiensi antara DPRD Kulon Progo, Pemkab Kulon Progo yang diwakili oleh Asisten II Bidang Perekonomian dan ESDM Kulon Progo, DKP, Satpol PP dengan pemilik dan penggarap tambak udang selatan Bandara Internasional Yogyakarta, bahwa pemkab menyediakan ruang yang berada di Desa Banaran, Kecamatan Galur.

Sejauh ini, DKP sudah memfasilitasi petambak udang selatan Bandara Internasional Yogyakarta  yang akan pindah dan membutuhkan lahan di lokasi Desa Banaran.

Namun, ia menekankan hal yang paling mendesak untuk mengantisipasi gejolak sosial, dan gejolak ekonomi masyarakat, maka Pemkab Kulon Progo harus memperjuangkan secara serius bagaimana petambak udang selatan Bandara Internasional Yogyakarta dan masyarakat dilibatkan dalam penanaman pohon hingga pemanfaatan sabuk hijau selatan Bandara Internasional Yogyakarta.

Meski BPDASHL akan menggunakan teknologi canggih dalam perawatan tanaman di kawasan  sabuk hijau, tapi perlu diantisipasi. Semua tahu penanaman di sana saat musim hujan bisa tumbuh, nanti saat musim kemarau, tanaman tidak disiram secara manual, ia pesimistis tanamam untuk sabuk hijau akan hidup.

"Menurut saya, yang harus dilakukan saat ini, yakni bagaimana betul-betul mensosialisasikan kepada warga, kemudian dibentuk format sistem pemiliharaan. Kita tidak mau penanaman sabuk hijau ini hanya sebagai proyek penanam tanaman penyangga abrasi dan polusi garam ke bandara, tapi kami berharap ini betul-betul program pemberdayaan masyarakat," katanya.

Politisi PDI Perjuangan dari Daerah Pemilihan I (Wates dan Temon) ini berharap selatan Bandara Internasional Yogyakarta multifungsi manfaatnya tanamannya, baik sebagai penahan abrasi, mereduksi kadar udara, dan sebagai pelindung, sekaligus dimanfaatkan sebagai wisata edukasi dan wisata kuliner.

Ia juga berharap selatan Bandara Internasional Yogyakarta sebagai tempat wisata dan jogging track.

"Kami memiliki cita-cita, selatan Bandara Internasional Yogyakarta menjadi kawasan hijau, multifungsi, dan masyarakat itu dapat menanfaatkannya untuk mendongkrak ekonomi masyarakat," harapnya.