Kasus Kekarasan Terhadap Perempuan dan Anak Memprihatinkan

Banyaknya jumlah kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kabupaten Kulonprogo dinilai cukup memprihatinkan. Pada tahun 2011 terjadi 59 kasus, dan tahun 2014 naik menjadi 92 kasus. Yang berarti rata-rata setiap tahun terjadi peningkatan sekitar 10 kasus.

Keprihatinan itu disampaikan juru bicara Fraksi Partai Gerindra (FP Gerindra) DPRD Kulonprogo Ika Damayanti Fatma Negara SIP pada rapat paripurna DPRD tentang penyampaian pendapat Panitia Khusus dan Pemandangan Umum Fraksi-Fraksi terhadap tiga Raperda, Senin (13/4) di gedung dewan setempat. Rapur yang dipimpin Ketua DPRD Akhid Nuryati itu dihadiri Wabup Dra H Sutejo serta Kepala SKPD di lingkungan Pemkab. Ketiga Raperdayang tengah dibahas DPRD meliputi Raperda Retribusi Tempat Rekreasi dan Olahraga, Perlindungan Terhadap Perempuan dan Anak Korban Kekerasan serta Penanggulangan Bencana.

Yang lebih memprihatinkan, tambah Ika, dari jumlah kasus tersebut, sebagian besar korbannya adalah anak-anak yang diharapkan akan menjadi pemimpin Kulonprogo pada 20-30 tahun mendatang. Namun mereka justru mendapat siksaan yang kemungkinan akan mengakibatkan cacat fisik maupun mental.

 “Kami mengutuk keras terjadinya kasus tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak. Kami menilai para pelaku adalah musuh Negara yang sesungguhnya,” tandas Ika.

Sementara Fraksi Partai Golkar (FPG) melalui juru bicaranya Wisnu Prastya menilai, kekerasan terhadap perempuan dan anakmerupakan persoalan yang kompleks dan multidimensional. Persoalan tersebut tidak hanya menyangkut aspek sosial, budaya dan hukum, tetapi juga berkaitan dengan persoalan ekonomi, khusunya kemiskinan. Oleh karenanya diperlukan upaya penyelesaian yang komprehensif  yang melibatkan semua pihak dengan pendekatan yang terintegrasi.

“Kondisi ini harus bisa menggugah simpati dan empati semua pihak. Perlu ada jaminan dan perlindungan dari semua pihak. Terutama dari keluarga. Keluarga harus bisa menjadi institusi yang menjaga dan menjamin anak bebas dari segala bentuk tindak kekerasan,” tegas Wisnu.