Pengelolaan Limbah Rumah Tangga Cukup Kompleks

Kamis, 14 April 2016 09:35:51 - Oleh : Humas Setwan

Permasalahan pengelolaan air limbah domestik (rumah tangga) di Kabupaten Kulonprogo cukup kompleks. Sistem pengelolaan jaringan air limbah yang belum optimal menjadi salah satu kendala bagi pemkab dalam upaya pelestarian lingkungan hidup.

Demikian dinyatakan Wakil Bupati Drs H Sutedjo saat membacakan pengantar bupati pada penyampaian tiga Raperda dalam rapat paripurna (Rapur) DPRD, Selasa (12/4) di gedung Dewan setempat. Rapur dipimpin Ketua DPRD Akhid Nuryati SE, dihadiri segenap kepala SKPD di lingkungan pemkab. Tiga Raperda yang disampaikan meliputi Pengelolaan Air Limbah Domestik, Penyelenggaraan Surat Izin Usaha Perdagangan serta Penyelenggaraan Tanda Daftar Perusahaan.

Air limbah domestic, tambah Sutedjo, merupakan salah satu hasil aktivitas manusia. Peningkatan volume air limbah domestik sangat dipengaruhi oleh kondisi sosial ekonomi masyarakat berserta aktivitasnya. Karena, kata dia, sumber air limbah domestik dari aktivitas manusia berkaitan dengan penggunaan air, seperti mandi, mencuci, WC, aktivitas industri dan lain sebagainya.

Dikatakan pula, pencemaran terjadi bila dalam lingkungan terdapat bahan yang menyebabkan timbulnya perubahan yang tidak diharapkan. Baik yang bersifat fisik, kimiawi maupun biologis, sehingga mengganggu kesehatan dan aktivitas manusia serta organism lainnya. “Pembuangan air limbah rumah tangga tanpa diolah lebih dulu akan membahayakan kesehatan manusia dan merusak lingkungan,” tandas wabup.

Menurut Wabup, berdasarkan amanat Undnag-Undang Nomor 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, pemerintah daerah berkewajiban menetapkan kebijakan daerah tentang pengelolaan lingkungan hidup. Sehingga, ujar dia, pemda perlu mengatur pengelolaan air limbah domestic dengan target dapat melindungi dan meningkatkan kualitas air tanah dan air permukaan di wilayah Kabupaten Kulonprogo, imbuh Sutedjo.Permasalahan pengelolaan air limbah domestik (rumah tangga) di Kabupaten Kulonprogo cukup kompleks. Sistem pengelolaan jaringan air limbah yang belum optimal menjadi salah satu kendala bagi pemkab dalam upaya pelestarian lingkungan hidup.

Demikian dinyatakan Wakil Bupati Drs H Sutedjo saat membacakan pengantar bupati pada penyampaian tiga Raperda dalam rapat paripurna (Rapur) DPRD, Selasa (12/4) di gedung Dewan setempat. Rapur dipimpin Ketua DPRD Akhid Nuryati SE, dihadiri segenap kepala SKPD di lingkungan pemkab. Tiga Raperda yang disampaikan meliputi Pengelolaan Air Limbah Domestik, Penyelenggaraan Surat Izin Usaha Perdagangan serta Penyelenggaraan Tanda Daftar Perusahaan.

Air limbah domestic, tambah Sutedjo, merupakan salah satu hasil aktivitas manusia. Peningkatan volume air limbah domestik sangat dipengaruhi oleh kondisi sosial ekonomi masyarakat berserta aktivitasnya. Karena, kata dia, sumber air limbah domestik dari aktivitas manusia berkaitan dengan penggunaan air, seperti mandi, mencuci, WC, aktivitas industri dan lain sebagainya.

Dikatakan pula, pencemaran terjadi bila dalam lingkungan terdapat bahan yang menyebabkan timbulnya perubahan yang tidak diharapkan. Baik yang bersifat fisik, kimiawi maupun biologis, sehingga mengganggu kesehatan dan aktivitas manusia serta organism lainnya. “Pembuangan air limbah rumah tangga tanpa diolah lebih dulu akan membahayakan kesehatan manusia dan merusak lingkungan,” tandas wabup.

Menurut Wabup, berdasarkan amanat Undnag-Undang Nomor 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, pemerintah daerah berkewajiban menetapkan kebijakan daerah tentang pengelolaan lingkungan hidup. Sehingga, ujar dia, pemda perlu mengatur pengelolaan air limbah domestic dengan target dapat melindungi dan meningkatkan kualitas air tanah dan air permukaan di wilayah Kabupaten Kulonprogo, imbuh Sutedjo.

« Kembali | Kirim | Versi cetak